Budaya Sekolah dan Peran Sosial dalam Mencegah Bullying
Bullying doesn't define the victim: it defines the bully
Bullying atau perundungan adalah fenomena yang masih sering terjadi di banyak sekolah. Ini bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan sosial siswa. Bullying can leave lasting scars if not properly addressed. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan budaya sekolah yang sehat, di mana values like respect, empathy, and kindness menjadi prioritas. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana budaya sekolah yang positif dan peran sosial yang kuat dapat membantu mencegah bullying dan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi semua siswa.
Masa revolusi yang ke 4.0 bercirikian pada
persaingan bebas dan keunggulan, juga didukung oleh teknologi informasi yang
modern, ternyata memberikan tantang besar dalam dunia pendidikan dalam
pembanguna karakter bangsa. Dalam
jurnalnya (Mayung et al.,
2023) menyoroti salah satu dalam tantangan tersebut adalah di
bidang kebudayaan, yang dimana dengan maraknya nilai-nilai budaya barat yang
bercorakan hedonistik, materialistik, pragmagtis, dan sekuleristik. Saat ini
bisa kita saksikan bersama banyak sekali generi indonesia yang tidak sama
sekali mengindahkan keimanan dan juga ketakwaan, sehingga aturan dan
norma-norma di langgar tanpa adanya rasa malu, menghalalkan segala cara untuk
bisa mencapai tujuan, individualisme dan bahkan egoisme tumbuh dengan berkembang
pesat, kepekaan sosial yang menipis, kepentingan pribadi dan golongan di atas
kepentingan umum, bahkan sampai hukum yang ada dapat diatur dan juga digunakan
sesuai kepentingan yang berkuasa. Pembahasan selanjutnya akan menyoroti
bullying sebagai salah satu aspek penting dalam membangun generasi yang
berkarakter dan berintegritas di tengah arus globalisasi.
Dalam konteks ini, bullying di indonesia bukan
hal yang mengejutkan dalam topik pembicaraan khususnya dalam dunia pendidikan, Menurut
(Marietha,
2024) dalam artikel berjudul “Indonesia Darurat
Kasus Perundungan” yang di publikasikan di (GoodStats) di sebutkan bahwa Data kasus
perundungan di indonesia berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2022 siswa kelas
5 sd 31.6% laki-laki dan 21.64%, siswi perempuan, pada siswa kelas 8 SMP
terdapat 32.2% laki-laki dan 19.97% siswi perempuan yang mengalami perundungan,
siswa kelas 11 SMA/SMK terdapat 19.68% siswa laki-laki dan 11.26% siswi
perempuan yang mengalami perundungan di sekolah.
Sejalan dengan data yang dihimpun JPPI (Prastiwi,
Mahar Mashabi, 2024) pada September
2024, terdapat 293 kasus perundungan di sekolah. Hal tersebut menunjukan bahwa masih
banyaknya kasus perundungan atau bully dalam dunia pendidikan walaupun banyak
sekali upaya pencegahan untuk mengatasi bullying ini. Dengan demikian melihat dari
masalah-masalah yang tertulis di atas maka, esai ini akan mengkaji tentang
bagaimana sekolah yang sehat, di dukung oleh kolaborasi antara guru, orang tua,
dan masyarakat. Dapat menjadi solusi efektif untuk mencegah bullying di
indonesia, sekaligus membentuk generasi yangb berkarakter di tengah tantangan
era globalisasi.
Konsep Budaya Sekolah
Secara etimologis, istilah budaya (culture)
berasal dari kata Latin colore (Daryanto, 2015:1). Yang berarti membajak
tanah, mengolah, dan merawat ladang. Pengertianya yang mulanya berhubungan dengan
soalm pertanian ini berkembang menjadi lebih mengarah pada aspek-aspek yang
bersifat rohani (Langveld, 1993). Secara terminologis, budaya menurut Montago
dan Dawson (1993) dapat diasrtikan sebagai way of life (Daryanto,
2015:1), yaitu cara bagaimana hidup tertentu yang dapat menggambarkan identitas
khas suatu bangsa. Selain itu, The American Heritage Dictionary menjelaskan bahwa budaya mencakup keseluruhan pola perilaku yang
diturunkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan, serta hasil
ciptaan dan pemikiran manusia dari suatu kelompok masyarakat
Dalam bahasa Indonesia, kata kebudayaan
berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah (Ahmadi, 2004:56), yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi, yang berarti akal atau budi.
Beberapa pandangan lain menjelaskan bahwa kata budaya berkembang dari gabungan
kata budi daya, yang berarti daya dari budi. Oleh karena itu, ada
perbedaan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang
meliputi cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan merupakan hasil dari
cipta, karsa, dan rasa tersebut. Secara prinsip, kebudayaan adalah hasil usaha
manusia, baik yang bersifat material maupun spiritual, yang terbentuk dalam dan
melalui interaksi sosial serta diwariskan kepada generasi berikutnya melalui
proses enkulturasi atau pendidikan (Maryamah,
2016).
Dalam konteks dunia pendidikan, budaya sekolah memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Budaya sekolah tidak hanya mencakup norma, nilai, dan aturan yang berlaku di lingkungan sekolah, tetapi juga bagaimana interaksi antar individu dan kelompok di sekolah dapat memengaruhi perkembangan sikap dan perilaku siswa. Sebuah budaya sekolah yang sehat, yang mendukung nilai-nilai positif seperti saling menghormati, empati, dan kerja sama, dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar dan mengurangi potensi terjadinya perundungan atau bullying. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini, akan dijelaskan bagaimana peran budaya sekolah yang kuat dan nilai-nilai yang diterapkan di dalamnya dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan karakter siswa.
Dalam penelitian (Cepi) yang berjudul “Komponen Budaya Sekolah Unggul” menyebutkan bahwa komponen budaya unggul yang teridentifikasi pada SMA Negeri 1 Yogyakarta ini dapat di kelompokan pada tiga komponen, adapun kelompok komponen budaya sekolah unggul tersebut adalah komponen nilai-nilai, keyakinan-keyakinan yanh ada pada setiap individu di sekolah tersebut, dan artefak budaya yang ada di sekolah tersebut (Mayung et al., 2023).
1. Pada bagian pertama, nilai-nilai budaya
yang bisa diidentifikasi pada penelitian ini meliputi 6 (enam) nilai. Nilai
yang pertama adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Di lingkungan sekolah,
semboyan 6S (salam, sapa, senyum, sopan, santun, sederhana) menjadi sesuatu
yang sangat familiar. Di beberapa sudut sekolah tertempel tulisan tersebut.
Terkait dengan semboyan salam, tiap bertemu teman, guru, karyawan, satpam, atau
orang luar, siapapun harus mengucapkan salam atau paling tidak menganggukan
kepala.
2. Nilai
budaya kedua adalah hormat sesama dan kasih sayang. Saling menghormati dan
kasih sayang terhadap sesama merupakan nilai yang sangat ditekankan dalam upaya
pendidikan di sekolah tersebut. Menghormati antarsiswa, antarguru dan tenaga
kependidikan, bahkan terhadap tamu sekalipun. Aura ini bisa dirasakan ketika pertama kali
masuk ke kompleks sekolah.
3. Nilai
budaya yang ketiga adalah kejujuran. Kejujuran merupakan nilai yang sangat
dikedepankan di sekolah ini. Siapa pun dituntut untuk berlaku dan meneladankan
kejujuran. Kejujuran diterapkan sekolah pada berbagai aspek, tak hanya pada
proses ujian akhir saja. Sekolah menuntut kepada semua warga untuk senantiasa
menjungjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan berbagai aspek kehidupan baik di
sekolah maupun di rumah, bahkan senantiasa diingatkan oleh guru, agar siswa
jujur walaupun sudah menjadi alumni.
4. Nilai
budaya yang keempat adalah kedisiplinan. Bagi warga SMA Negeri 1 Yogyakarta,
disiplin dimaknai sebagai suatu kondisi keteraturan yang diakibatkan
terpenuhinya standar-standar perilaku berlaku di sekolah. Bagi sekolah,
disiplin merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan proses
pendidikan secara umum. Standar perilaku yang ditetapkan sekolah merupakan
produk demokrasi. (Mayung et al., 2023).
Sejalan dengan penelitian yang di
lakukan oleh (Mayung et al., 2023) bahwa budaya sekolah yang positif, yang dapat memotivasi siswa dan
meningkatkan kinerja akademik yang dirangkum dari beberapa penelitian terdahulu
antara lain adalah:
1. Budaya
keberhasilan: Sekolah yang memiliki budaya keberhasilan memotivasi siswa untuk
mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi. Budaya ini menciptakan lingkungan
yang mendukung untuk mencapai tujuan akademik.
2. Budaya
kerjasama: Sekolah yang mendorong kerjasama di antara siswa dan staf dapat
meningkatkan motivasi siswa dan memperbaiki kinerja akademik mereka. Budaya
kerjasama juga membantu siswa belajar saling mendukung dan saling membantu.
3. Budaya
keterbukaan: Sekolah yang mendorong keterbukaan dan komunikasi antara siswa,
staf, dan orangtua cenderung menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Siswa merasa lebih nyaman untuk meminta bantuan dan bertanya, sehingga
memperbaiki pemahaman mereka tentang materi pelajaran.
4. Budaya
inklusif: Sekolah yang memiliki budaya inklusif memperhatikan keberagaman siswa
dan memastikan bahwa semua siswa merasa diterima dan dihargai. Budaya ini dapat
membantu meningkatkan motivasi siswa dan kinerja akademik mereka.
5. Budaya
partisipasi: Sekolah yang mendorong partisipasi siswa dalam kegiatan sekolah
dan dalam pengambilan keputusan cenderung memiliki siswa yang lebih termotivasi
dan berkinerja akademik lebih baik. Budaya partisipasi juga membantu siswa
merasa memiliki tanggung jawab dan kontrol atas pendidikan mereka.
Adapun budaya
sekolah yang negatif yang dapat mempengaruhi motivasi siswa dan hasil belajar
mereka, antara lain adalah:
1.Budaya
diskriminatif: Sekolah yang tidak memperhatikan keberagaman siswa dan
memperlakukan siswa secara tidak adil dapat mempengaruhi motivasi siswa dan
kinerja akademik mereka. Budaya diskriminatif dapat menyebabkan siswa merasa
tidak diterima dan tidak dihargai di lingkungan sekolah.
2. Budaya
bullying: Sekolah yang memiliki budaya bullying atau intimidasi akan merugikan
siswa dan mempengaruhi kinerja akademik mereka. Budaya ini dapat menyebabkan
siswa merasa tidak aman dan tidak nyaman di sekolah, sehingga mempengaruhi
konsentrasi mereka dalam belajar. Budaya persaingan yang berlebihan: Sekolah
yang terlalu fokus pada persaingan dan mengabaikan kerjasama dapat mempengaruhi
motivasi siswa dan kinerja akademik mereka. Budaya ini dapat menciptakan
tekanan yang tidak sehat dan membuat siswa merasa cemas atau tidak termotivasi
untuk belajar.
Dengan menekankan pentingnya
kejujuran, kedisiplinan, dan saling menghormati, sekolah tersebut dapat di jadikan
contoh karena sekolah tersebut berhasil membentuk budaya yang tidak hanya
memfokuskan pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang
kuat, yang sangat penting untuk menghadapi tantangan di era globalisasi.
Hubungan Budaya Sekolah dengan
Bullying
Lingkungan sekolah memilikin peran yang begitu signifikan dalam
pembentukan karakter siswa. Seperti yang di sampaikan dalam penelitianya
(Mawardi & Indayani, 2020), budaya sekolah yang baik dapat mengembangkan karakter
siswa yang positif, sementara budaya sekolah yang buruk bisa berpotensi
menghasilkan perilaku yang kurang baik, salah satunya adalah bullying. Penelitian
yang di lakukan oleh (Rotun & Awalya, 2021) menyebutkan bahwa interaksi
antara warga sekolah dan pada proses pembelajaran yang di lakukan di kelas
adalah faktor dominan yang mempengaruhi perilaku bullying di sekolah. Selain itu,
penelitian (Arifandi, 2020) juga menunjukan bahwa suasana sekolah yang positif atau negatif dapat juga mempengaruhi frekuensi bullying, dengan sekolah yang memang
perlu ditumbuhkan berupa sikap saling menghormati antara siswa, guru, dan juga
seleuruh pihak di sekolah untuk menciptakan lingkungan yang pastinya lebih baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah
intimidasi terasa sudah tidak asing di telinga. Banyak kejadian di segala
bidang kehidupan, sering dijumpai seseorang atau kelompok orang melakukan
intimidasi kepada orang atau kelompok orang lainnya. Intimidasi adalah tindakan
menakut-nakuti terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu,
seperti gertakan, ancaman mempermalukan. Pengertian Intimidasi secara umum,
intimidasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk tindakan penindasan, baik
verbal maupun non verbal, kepada pihak yang lebih lemah. Dalam kamus besar
Bahasa Indonesia, intimidasi diartikan sebagai tindakan menakut-nakuti
(terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu), gertakan,
ancaman. Intimidasi dikatakan juga sebagai perilaku agresif yang disengaja dan
dilakukan secara berulang-ulang untuk membuat tekanan kepada orang lain baik
secara fisik maupun psikologis.
Intimidasi memang umunya dianggap sebagai masalah
yang serius dan penindasan, yang biasanya dapat kita artikan sebagai tindakan
fisik atau psikologis yang dilakukan dengan sengaja dan berulang oleh seseorang
yang memiliki kekuasaan atas korban (Kowalski et al,. 2014: Modecki et al.,
2014). Tindakan ini dapat di kategorikan sebagai intimidasi jika memenuhi beberapa
karakteristik, seperti perilaku agresif yang berlangsung dalam jangan waktu tertentu,
penggunaan kekuatan untuk memaksa orang lain melakukan sesuatu sesuai keinginan
pelaku, serta juga ancaman yang membuat korban merasa terancam dan takut. Intimidasi
juga kerap kali muncul dalam bentuk ancaman yang bertujuan menakut-nakuti
korban agar dapat mengikuti kehendak pelaku, pemerasan untuk memenuhi tuntutan,
atau bahkan pembungkaman agar korban tidak mengungkapkan informasi tertentu. Secara
tidak langsung, intimidasi dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai
tujuan mereka, yang bersifat positif atau negatif. Perilaku intimidasi ini
dapat menimbulkan dampak psikis bagi korban, yang seringkali diasosiasikan
dengan kekerasan hal-hal yang tidak menyenangkan (Moch Insan Gumelar, 2022).
Mengutip dari (Muallif, 2023) dalam tulisdanya yang
berjudul “Lima Langkah Mencegah Bullying di sekolah: Dari Budaya Positif hingga
Peran Saksi” mengungkapkan banhwa ada lima langkah yang dapat dilakukan untuk
mencegah bullying:
1. Membangun
budaya sekolah yang positif dan inklusif
2. Mendeteksi
dan mengintervensi tindakan bullying secara dini
3. Mengedukasi siswa
tentang dampak dan cara mengatasi bullying
4. Meningkatkan
keterampilan sosial dan emosional siswa
5. Memberdayakan peran saksi dalam mencegah bullying
Sejalan dalam (Nur, 2024) yang berjudul “Mengatasi Perilaku Bullying di Sekolah Dasar” untuk mengatasi bullying di sekolah dasar memang memerlukan pendekatan yang menyeluruh seperti:
1. Langkah
pertama adalah kita harus membangun kesadaran sejak dini tentang apa itu
bullying dan mengapa hal ini tidak dapat diterima. Edukasi mengenai bullying
perlu dilakukan secara rutin di sekolah, baik melalui diskusi di kelas,
pelatihan, maupun program khusus yang melibatkan siswa, guru, dan orang
tua.
2. Anak-anak
juag perlu diajarkan bahwa setiap bentuk perilaku yang dapat menyakiti orang
lain, baik secara fisik maupun emosional, adalah salah. Dengan pemahaman yang
baik, siswa akan lebih mampu mengenali perilaku bullying dan lebih cenderung
melaporkannya.
3. Mendorong
sikap empati adalah langkah penting berikutnya. Anak-anak nmemahami perasaan
orang lain cenderung lebih jarang terlibat dalam perilaku bullying. Guru dapat
menggunakan cerita, permainan, atau drama pendek untuk mengajarkan empati
kepada siswa. Dapat di contohkan misalnya, bisa melalui simulasi peran,
anak-anak disini bisa merasakan bagaimana menjadi korban dan memahami dampak
emosional yang ditimbulkan oleh perilaku bullying. Di sisi lain, penghargaan
terhadap perilaku baik, seperti membantu teman yang kesulitan, juga dapat
menumbuhkan sikap peduli dan memperkuat hubungan positif antar siswa.
Menerapkan kebijakan anti-bullying yang jelas dan konsisten. Kebijakan ini bisa mencakup aturan tegas terhadap pelaku bullying, prosedur pelaporan yang aman dan rahasia, serta langkah-langkah pendampingan untuk korban.
Guru dan staf sekolah perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda bullying, baik pada korban maupun pelaku, sehingga mereka dapat segera mengambil tindakan yang tepat. Selain itu, penting bagi sekolah untuk menyediakan ruang konsultasi bagi siswa yang merasa tidak nyaman atau memiliki masalah dengan teman sebayanya.
Peran orang tua tidak kalah penting dalam pencegahan dan penanganan bullying. Orang tua perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak untuk mengetahui apa yang terjadi di sekolah. Dengan mendengarkan anak tanpa menghakimi, orang tua dapat memahami pengalaman mereka dan memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan.
Dalam kutipan di atas bisa di praktikan oleh para sekolah atau dalam dunia pendidikan karena selain membangun keharmonisan yang positif dalam lingkungan sekolah langkah tersebut juga mengedukasi tentang dampak bahayanya bullying yang memang banyak sekali dampak negatifnya terhadap korban bullying.
Peran Sosial dalam Mencegah Bullying
Peran keluarga tidak hanya terbatas soal ekonomi saja tetapi edukasi
dalam kekeluargaan pun harus dilakukan, apalagi ibu adalah madrasah pertama
bagi seorang anak maka perlu anak-anak di ajarkan bagaiman berperilaku terhadap
keluarga, teman, dan bahkan harus di edukasi mengenai bagaimana berperilaku
terhadap dirin sendiri. Keluarga sebagai rumah bagi seorang anak sudah
semestinya memberikan tempat ternyaman bagi mereka. Sebagaimana sebelumnya, bahwa keluarga
merupakan salah satu faktor yang memengaruhi tindakan bullying.
Solusinya adalah komunikasi yang positif dalam keluarga. Perlu mengupayakan
komunikasi keluarga yang efektif yang di dalamnya juga meliputi respek,
empati, audible. Selain itu, orang tua juga berperan dalam
melakukan pola pengasuhan yang tepat kepada anaknya, sehingga upaya
mencegah bullying dapat berjalan lancar (Akbar,
2023).
Dalam jurnal JCA of Psychology, memberikan
data ketika remaja korban mencoba menceritakan permasalahannya tidak ada timbal
balik komunikasi dari keluarga karena komunikasi kurang terjalin dengan intens.
Sehingga yang perlu menjadi perhatian selain para remaja agar lebih terbuka
dengan keluarga, orang tua seharusnya memberikan timbal balik dan memberikan
waktu perhatian lebih kepada anak-anaknya, menjadi teman sekaligus pendengar
yang baik. Selain itu juga perlunya mengajarkan cara menyelesaikan permasalahan
dengan baik dan menanggapi permasalahan dengan bijak.
Peran guru memang tidak hanya terbatas pada
pengajaran materi pelajaran, tetapi juga ia sebagai teladan perilaku bagi para
siswa. Guru memiliki dampak besar dalam membentuk sikap, normal, dan bahkan nilai-niolai
yang bisa dianut oleh para siswa. Oleh karena itu, guru memiliki tanggung jawab
besar untuk menunjukan contoh yang positif dan juga pastinya untuk mendukung
perkembangan karakter siswa (Bangsawan,
2023).
Salah satu aspek yang terpenting dalam
peran guru sebagai teladan adalah etika
dan integritas. Disini guru juga harus menjadi contoh dalam hal kejujuran dan
integritas. Siswa yang cenderung meniru perilaku
yang mereka lihat, terutama dalam hal-hal yang memang masih berkaitakn dengan
kejujuran dan etika. Oleh karena itu, guru juga perlu selalu memprioritaskan
tindakan yang benar dan jujur dalam segala hal yang mereka perbuat. Selain itu
juga, disini guru juga memilki peran sangat penting dalam mengajarkan empati
dan kerja sama. Dalam menghadapi perbedaan dan konflik di kelas, guru dapat menunjukan
bagaimana berkomunikasi dengan baik, mendengarkan dengan sangatb empati, dan
juga dapat menyelesaikan konflik dengan cara yang damai. Siswa dapat belajar
banyak dari cara guru menangani situasi soal ini.
Dapat di fahami bahwa sebenarnya banyak
sekali yang harus berperan dalam mencegah kasus bullying ini terutama adalah
keluarga, karena biasanya ketika di sekolah seorang anak mengalami bullying
biasanya seorang anak akan berani berbicara jika dari pihak keluarga yang
menanyakan soal bullying tersebut.
DAFTAR PUSATAKA
Akbar, I. F. (2023). Mencegah Bullying: Peran Penting
Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat. Rahma.ID.
https://rahma.id/mencegah-bullying-peran-penting-keluarga-sekolah-dan-masyarakat/
Bangsawan, M. I. P. R. (2023). Guru sebagai Model
Perilaku: Membentuk Sikap dan Nilai Siswa. Eduinovatif.
https://eduinovatif.blogspot.com/2023/10/guru-sebagai-model-perilaku-membentuk.html
Marietha, R. A. (2024). Indonesia Darurat kasus
perundungan. GoodStats.
https://goodstats.id/article/miris-indonesia-darurat-kasus-perundungan-satuan-pendidikan-di-bawah-kemdikbudristek-terbanyak-0gcyv
Maryamah, E. (2016). 2016, Pengembangan Budaya Sekolah,
Jurnal Tarbawi (Jurnal Online), Vol 2, No 2. Hal 86-96. Tarbawi (Jurnal
Online), 2(02), 86–96.
https://media.neliti.com/media/publications/publications/256481-pengembangan-budaya-sekolah-1bf3dd81.pdf
Mayung, R. A., Tandiayu, W. N., Untu, Z., &
Widajanti, A. (2023). SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN PROFESI GURU TAHUN 2023
e-ISSN: 2829 - 3541. Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Tahun 2021,
2020, 105–111.
Moch Insan Gumelar. (2022). Pengaruh Intimidasi Fisik
dan Verbal Terhadap Motivasi Atlet. 9–40.
Muallif. (2023). Lima Langkah Mencegah Bullying di
Sekolah: Dari Budaya Positif hingga Peran Saksi. UNIVERSITAS ISLAM AN NUR
LAMPUNG.
https://an-nur.ac.id/blog/lima-langkah-mencegah-bullying-di-sekolah-dari-budaya-positif-hingga-peran-saksi.html#:~:text=Berikut
adalah lima langkah yang dapat dilakukan untuk,5 5. Memberdayakan peran saksi
dalam mencegah bullying
Nur, A. (2024). Mengatasi Perilaku Bullying di Sekolah
Dasar. Kompasiana.
https://www.kompasiana.com/annisanur4831/6747f32334777c4ccb241bd2/mengatasi-perilaku-bullying-di-sekolah-dasar
Prastiwi, Mahar Mashabi, S. (2024). JPPI: Sepanjang
Tahun 2024 Ada 293 Kasus Kekerasan di Sekolah. Kompas.Com.
https://www.kompas.com/edu/read/2024/10/24/163509171/jppi-sepanjang-tahun-2024-ada-293-kasus-kekerasan-di-sekolah



Kewwreennn✨️
BalasHapusMantaff
BalasHapusWah bermanfaat banget ni
BalasHapus