Budaya Sekolah dan Peran Sosial dalam Mencegah Bullying



Bullying doesn't define the victim: it defines the bully





Bullying atau perundungan adalah fenomena yang masih sering terjadi di banyak sekolah. Ini bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan sosial siswa. Bullying can leave lasting scars if not properly addressed. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan budaya sekolah yang sehat, di mana values like respect, empathy, and kindness menjadi prioritas. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana budaya sekolah yang positif dan peran sosial yang kuat dapat membantu mencegah bullying dan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi semua siswa.






 

Masa revolusi yang ke 4.0 bercirikian pada persaingan bebas dan keunggulan, juga didukung oleh teknologi informasi yang modern, ternyata memberikan tantang besar dalam dunia pendidikan dalam pembanguna  karakter bangsa. Dalam jurnalnya (Mayung et al., 2023) menyoroti  salah satu dalam tantangan tersebut adalah di bidang kebudayaan, yang dimana dengan maraknya nilai-nilai budaya barat yang bercorakan hedonistik, materialistik, pragmagtis, dan sekuleristik. Saat ini bisa kita saksikan bersama banyak sekali generi indonesia yang tidak sama sekali mengindahkan keimanan dan juga ketakwaan, sehingga aturan dan norma-norma di langgar tanpa adanya rasa malu, menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai tujuan, individualisme dan bahkan egoisme tumbuh dengan berkembang pesat, kepekaan sosial yang menipis, kepentingan pribadi dan golongan di atas kepentingan umum, bahkan sampai hukum yang ada dapat diatur dan juga digunakan sesuai kepentingan yang berkuasa. Pembahasan selanjutnya akan menyoroti bullying sebagai salah satu aspek penting dalam membangun generasi yang berkarakter dan berintegritas di tengah arus globalisasi.

Dalam konteks ini, bullying di indonesia bukan hal yang mengejutkan dalam topik pembicaraan khususnya dalam dunia pendidikan, Menurut (Marietha, 2024) dalam artikel berjudul “Indonesia Darurat Kasus Perundungan” yang di publikasikan di (GoodStats) di sebutkan bahwa Data kasus perundungan di indonesia berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2022 siswa kelas 5 sd 31.6% laki-laki dan 21.64%, siswi perempuan, pada siswa kelas 8 SMP terdapat 32.2% laki-laki dan 19.97% siswi perempuan yang mengalami perundungan, siswa kelas 11 SMA/SMK terdapat 19.68% siswa laki-laki dan 11.26% siswi perempuan yang mengalami perundungan di sekolah.

Sejalan dengan data yang dihimpun JPPI (Prastiwi, Mahar Mashabi, 2024)  pada September 2024, terdapat 293 kasus perundungan di sekolah. Hal tersebut menunjukan bahwa masih banyaknya kasus perundungan atau bully dalam dunia pendidikan walaupun banyak sekali upaya pencegahan untuk mengatasi bullying ini. Dengan demikian melihat dari masalah-masalah yang tertulis di atas maka, esai ini akan mengkaji tentang bagaimana sekolah yang sehat, di dukung oleh kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat. Dapat menjadi solusi efektif untuk mencegah bullying di indonesia, sekaligus membentuk generasi yangb berkarakter di tengah tantangan era globalisasi.

Konsep Budaya Sekolah

Secara etimologis, istilah budaya (culture) berasal dari kata Latin colore (Daryanto, 2015:1). Yang berarti membajak tanah, mengolah, dan merawat ladang. Pengertianya yang mulanya berhubungan dengan soalm pertanian ini berkembang menjadi lebih mengarah pada aspek-aspek yang bersifat rohani (Langveld, 1993). Secara terminologis, budaya menurut Montago dan Dawson (1993) dapat diasrtikan sebagai way of life (Daryanto, 2015:1), yaitu cara bagaimana hidup tertentu yang dapat menggambarkan identitas khas suatu bangsa. Selain itu, The American Heritage Dictionary menjelaskan bahwa budaya mencakup keseluruhan pola perilaku yang diturunkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan, serta hasil ciptaan dan pemikiran manusia dari suatu kelompok masyarakat

Dalam bahasa Indonesia, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah (Ahmadi, 2004:56), yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, yang berarti akal atau budi. Beberapa pandangan lain menjelaskan bahwa kata budaya berkembang dari gabungan kata budi daya, yang berarti daya dari budi. Oleh karena itu, ada perbedaan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang meliputi cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan merupakan hasil dari cipta, karsa, dan rasa tersebut. Secara prinsip, kebudayaan adalah hasil usaha manusia, baik yang bersifat material maupun spiritual, yang terbentuk dalam dan melalui interaksi sosial serta diwariskan kepada generasi berikutnya melalui proses enkulturasi atau pendidikan (Maryamah, 2016).

Dalam konteks dunia pendidikan, budaya sekolah memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Budaya sekolah tidak hanya mencakup norma, nilai, dan aturan yang berlaku di lingkungan sekolah, tetapi juga bagaimana interaksi antar individu dan kelompok di sekolah dapat memengaruhi perkembangan sikap dan perilaku siswa. Sebuah budaya sekolah yang sehat, yang mendukung nilai-nilai positif seperti saling menghormati, empati, dan kerja sama, dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar dan mengurangi potensi terjadinya perundungan atau bullying. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini, akan dijelaskan bagaimana peran budaya sekolah yang kuat dan nilai-nilai yang diterapkan di dalamnya dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan karakter siswa.

Dalam penelitian (Cepi) yang berjudul “Komponen Budaya Sekolah Unggul” menyebutkan bahwa komponen budaya unggul yang teridentifikasi pada SMA Negeri 1 Yogyakarta ini dapat di kelompokan pada tiga komponen, adapun kelompok komponen budaya sekolah unggul tersebut adalah komponen nilai-nilai, keyakinan-keyakinan yanh ada pada setiap individu di sekolah tersebut, dan artefak budaya yang ada di sekolah tersebut (Mayung et al., 2023).

1. Pada bagian pertama, nilai-nilai budaya yang bisa diidentifikasi pada penelitian ini meliputi 6 (enam) nilai. Nilai yang pertama adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Di lingkungan sekolah, semboyan 6S (salam, sapa, senyum, sopan, santun, sederhana) menjadi sesuatu yang sangat familiar. Di beberapa sudut sekolah tertempel tulisan tersebut. Terkait dengan semboyan salam, tiap bertemu teman, guru, karyawan, satpam, atau orang luar, siapapun harus mengucapkan salam atau paling tidak menganggukan kepala.

2.    Nilai budaya kedua adalah hormat sesama dan kasih sayang. Saling menghormati dan kasih sayang terhadap sesama merupakan nilai yang sangat ditekankan dalam upaya pendidikan di sekolah tersebut. Menghormati antarsiswa, antarguru dan tenaga kependidikan, bahkan terhadap tamu sekalipun. Aura ini bisa dirasakan ketika pertama kali masuk ke kompleks sekolah.

3.    Nilai budaya yang ketiga adalah kejujuran. Kejujuran merupakan nilai yang sangat dikedepankan di sekolah ini. Siapa pun dituntut untuk berlaku dan meneladankan kejujuran. Kejujuran diterapkan sekolah pada berbagai aspek, tak hanya pada proses ujian akhir saja. Sekolah menuntut kepada semua warga untuk senantiasa menjungjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan berbagai aspek kehidupan baik di sekolah maupun di rumah, bahkan senantiasa diingatkan oleh guru, agar siswa jujur walaupun sudah menjadi alumni.

4.  Nilai budaya yang keempat adalah kedisiplinan. Bagi warga SMA Negeri 1 Yogyakarta, disiplin dimaknai sebagai suatu kondisi keteraturan yang diakibatkan terpenuhinya standar-standar perilaku berlaku di sekolah. Bagi sekolah, disiplin merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan proses pendidikan secara umum. Standar perilaku yang ditetapkan sekolah merupakan produk demokrasi. (Mayung et al., 2023).

Sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh (Mayung et al., 2023) bahwa budaya sekolah yang positif, yang dapat memotivasi siswa dan meningkatkan kinerja akademik yang dirangkum dari beberapa penelitian terdahulu antara lain adalah:

1.    Budaya keberhasilan: Sekolah yang memiliki budaya keberhasilan memotivasi siswa untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi. Budaya ini menciptakan lingkungan yang mendukung untuk mencapai tujuan akademik.

2.   Budaya kerjasama: Sekolah yang mendorong kerjasama di antara siswa dan staf dapat meningkatkan motivasi siswa dan memperbaiki kinerja akademik mereka. Budaya kerjasama juga membantu siswa belajar saling mendukung dan saling membantu.

3. Budaya keterbukaan: Sekolah yang mendorong keterbukaan dan komunikasi antara siswa, staf, dan orangtua cenderung menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Siswa merasa lebih nyaman untuk meminta bantuan dan bertanya, sehingga memperbaiki pemahaman mereka tentang materi pelajaran.

4.  Budaya inklusif: Sekolah yang memiliki budaya inklusif memperhatikan keberagaman siswa dan memastikan bahwa semua siswa merasa diterima dan dihargai. Budaya ini dapat membantu meningkatkan motivasi siswa dan kinerja akademik mereka.

5.  Budaya partisipasi: Sekolah yang mendorong partisipasi siswa dalam kegiatan sekolah dan dalam pengambilan keputusan cenderung memiliki siswa yang lebih termotivasi dan berkinerja akademik lebih baik. Budaya partisipasi juga membantu siswa merasa memiliki tanggung jawab dan kontrol atas pendidikan mereka.

Adapun budaya sekolah yang negatif yang dapat mempengaruhi motivasi siswa dan hasil belajar mereka, antara lain adalah:

1.Budaya diskriminatif: Sekolah yang tidak memperhatikan keberagaman siswa dan memperlakukan siswa secara tidak adil dapat mempengaruhi motivasi siswa dan kinerja akademik mereka. Budaya diskriminatif dapat menyebabkan siswa merasa tidak diterima dan tidak dihargai di lingkungan sekolah.

2. Budaya bullying: Sekolah yang memiliki budaya bullying atau intimidasi akan merugikan siswa dan mempengaruhi kinerja akademik mereka. Budaya ini dapat menyebabkan siswa merasa tidak aman dan tidak nyaman di sekolah, sehingga mempengaruhi konsentrasi mereka dalam belajar. Budaya persaingan yang berlebihan: Sekolah yang terlalu fokus pada persaingan dan mengabaikan kerjasama dapat mempengaruhi motivasi siswa dan kinerja akademik mereka. Budaya ini dapat menciptakan tekanan yang tidak sehat dan membuat siswa merasa cemas atau tidak termotivasi untuk belajar.

Dengan menekankan pentingnya kejujuran, kedisiplinan, dan saling menghormati, sekolah tersebut dapat di jadikan contoh karena sekolah tersebut berhasil membentuk budaya yang tidak hanya memfokuskan pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang kuat, yang sangat penting untuk menghadapi tantangan di era globalisasi.

Hubungan Budaya Sekolah dengan Bullying

Lingkungan sekolah memilikin peran yang begitu signifikan dalam pembentukan karakter siswa. Seperti yang di sampaikan dalam penelitianya (Mawardi & Indayani, 2020), budaya sekolah yang baik dapat mengembangkan karakter siswa yang positif, sementara budaya sekolah yang buruk bisa berpotensi menghasilkan perilaku yang kurang baik, salah satunya adalah bullying. Penelitian yang di lakukan oleh (Rotun & Awalya, 2021) menyebutkan bahwa interaksi antara warga sekolah dan pada proses pembelajaran yang di lakukan di kelas adalah faktor dominan yang mempengaruhi perilaku bullying di sekolah. Selain itu, penelitian (Arifandi, 2020) juga menunjukan bahwa suasana sekolah yang positif atau negatif dapat juga mempengaruhi frekuensi bullying, dengan sekolah yang memang perlu ditumbuhkan berupa sikap saling menghormati antara siswa, guru, dan juga seleuruh pihak di sekolah untuk menciptakan lingkungan yang pastinya lebih baik.






Dalam kehidupan sehari-hari, istilah intimidasi terasa sudah tidak asing di telinga. Banyak kejadian di segala bidang kehidupan, sering dijumpai seseorang atau kelompok orang melakukan intimidasi kepada orang atau kelompok orang lainnya. Intimidasi adalah tindakan menakut-nakuti terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu, seperti gertakan, ancaman mempermalukan. Pengertian Intimidasi secara umum, intimidasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk tindakan penindasan, baik verbal maupun non verbal, kepada pihak yang lebih lemah. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, intimidasi diartikan sebagai tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu), gertakan, ancaman. Intimidasi dikatakan juga sebagai perilaku agresif yang disengaja dan dilakukan secara berulang-ulang untuk membuat tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis.



Intimidasi memang umunya dianggap sebagai masalah yang serius dan penindasan, yang biasanya dapat kita artikan sebagai tindakan fisik atau psikologis yang dilakukan dengan sengaja dan berulang oleh seseorang yang memiliki kekuasaan atas korban (Kowalski et al,. 2014: Modecki et al., 2014). Tindakan ini dapat di kategorikan sebagai intimidasi jika memenuhi beberapa karakteristik, seperti perilaku agresif yang berlangsung dalam jangan waktu tertentu, penggunaan kekuatan untuk memaksa orang lain melakukan sesuatu sesuai keinginan pelaku, serta juga ancaman yang membuat korban merasa terancam dan takut. Intimidasi juga kerap kali muncul dalam bentuk ancaman yang bertujuan menakut-nakuti korban agar dapat mengikuti kehendak pelaku, pemerasan untuk memenuhi tuntutan, atau bahkan pembungkaman agar korban tidak mengungkapkan informasi tertentu. Secara tidak langsung, intimidasi dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan mereka, yang bersifat positif atau negatif. Perilaku intimidasi ini dapat menimbulkan dampak psikis bagi korban, yang seringkali diasosiasikan dengan kekerasan hal-hal yang tidak menyenangkan (Moch Insan Gumelar, 2022).

Mengutip dari (Muallif, 2023) dalam tulisdanya yang berjudul “Lima Langkah Mencegah Bullying di sekolah: Dari Budaya Positif hingga Peran Saksi” mengungkapkan banhwa ada lima langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah bullying:

1.      Membangun budaya sekolah yang positif dan inklusif

2.  Mendeteksi dan mengintervensi tindakan bullying secara dini

3.  Mengedukasi siswa tentang dampak dan cara mengatasi bullying

4.   Meningkatkan keterampilan sosial dan emosional siswa

5.      Memberdayakan peran saksi dalam mencegah bullying

    Sejalan dalam (Nur, 2024) yang berjudul “Mengatasi Perilaku Bullying di Sekolah Dasar” untuk mengatasi bullying di sekolah dasar memang memerlukan pendekatan yang menyeluruh seperti:

1.   Langkah pertama adalah kita harus membangun kesadaran sejak dini tentang apa itu bullying dan mengapa hal ini tidak dapat diterima. Edukasi mengenai bullying perlu dilakukan secara rutin di sekolah, baik melalui diskusi di kelas, pelatihan, maupun program khusus yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. 

2.    Anak-anak juag perlu diajarkan bahwa setiap bentuk perilaku yang dapat menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun emosional, adalah salah. Dengan pemahaman yang baik, siswa akan lebih mampu mengenali perilaku bullying dan lebih cenderung melaporkannya.

3.    Mendorong sikap empati adalah langkah penting berikutnya. Anak-anak nmemahami perasaan orang lain cenderung lebih jarang terlibat dalam perilaku bullying. Guru dapat menggunakan cerita, permainan, atau drama pendek untuk mengajarkan empati kepada siswa. Dapat di contohkan misalnya, bisa melalui simulasi peran, anak-anak disini bisa merasakan bagaimana menjadi korban dan memahami dampak emosional yang ditimbulkan oleh perilaku bullying. Di sisi lain, penghargaan terhadap perilaku baik, seperti membantu teman yang kesulitan, juga dapat menumbuhkan sikap peduli dan memperkuat hubungan positif antar siswa.







    Menerapkan kebijakan anti-bullying yang jelas dan konsisten. Kebijakan ini bisa mencakup aturan tegas terhadap pelaku bullying, prosedur pelaporan yang aman dan rahasia, serta langkah-langkah pendampingan untuk korban. 

    Guru dan staf sekolah perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda bullying, baik pada korban maupun pelaku, sehingga mereka dapat segera mengambil tindakan yang tepat. Selain itu, penting bagi sekolah untuk menyediakan ruang konsultasi bagi siswa yang merasa tidak nyaman atau memiliki masalah dengan teman sebayanya.

    Peran orang tua tidak kalah penting dalam pencegahan dan penanganan bullying. Orang tua perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak untuk mengetahui apa yang terjadi di sekolah. Dengan mendengarkan anak tanpa menghakimi, orang tua dapat memahami pengalaman mereka dan memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan.

    Dalam kutipan di atas bisa di praktikan oleh para sekolah atau dalam dunia pendidikan karena selain membangun keharmonisan yang positif dalam lingkungan sekolah langkah tersebut juga mengedukasi tentang dampak bahayanya bullying yang memang banyak sekali dampak negatifnya terhadap korban bullying.

Peran Sosial dalam Mencegah Bullying

Peran keluarga tidak hanya terbatas soal ekonomi saja tetapi edukasi dalam kekeluargaan pun harus dilakukan, apalagi ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak maka perlu anak-anak di ajarkan bagaiman berperilaku terhadap keluarga, teman, dan bahkan harus di edukasi mengenai bagaimana berperilaku terhadap dirin sendiri. Keluarga sebagai rumah bagi seorang anak sudah semestinya memberikan tempat ternyaman bagi mereka. Sebagaimana sebelumnya, bahwa keluarga merupakan salah satu faktor yang memengaruhi tindakan bullying. Solusinya adalah komunikasi yang positif dalam keluarga. Perlu mengupayakan komunikasi keluarga yang efektif yang di dalamnya juga meliputi respek, empati, audible. Selain itu, orang tua juga berperan dalam melakukan pola pengasuhan yang tepat kepada anaknya, sehingga upaya mencegah bullying dapat berjalan lancar (Akbar, 2023).

Dalam jurnal JCA of Psychology, memberikan data ketika remaja korban mencoba menceritakan permasalahannya tidak ada timbal balik komunikasi dari keluarga karena komunikasi kurang terjalin dengan intens. Sehingga yang perlu menjadi perhatian selain para remaja agar lebih terbuka dengan keluarga, orang tua seharusnya memberikan timbal balik dan memberikan waktu perhatian lebih kepada anak-anaknya, menjadi teman sekaligus pendengar yang baik. Selain itu juga perlunya mengajarkan cara menyelesaikan permasalahan dengan baik dan menanggapi permasalahan dengan bijak.

Peran guru memang tidak hanya terbatas pada pengajaran materi pelajaran, tetapi juga ia sebagai teladan perilaku bagi para siswa. Guru memiliki dampak besar dalam membentuk sikap, normal, dan bahkan nilai-niolai yang bisa dianut oleh para siswa. Oleh karena itu, guru memiliki tanggung jawab besar untuk menunjukan contoh yang positif dan juga pastinya untuk mendukung perkembangan karakter siswa (Bangsawan, 2023).

Salah satu aspek yang terpenting dalam peran guru  sebagai teladan adalah etika dan integritas. Disini guru juga harus menjadi contoh dalam hal kejujuran dan integritas. Siswa yang cenderung meniru perilaku yang mereka lihat, terutama dalam hal-hal yang memang masih berkaitakn dengan kejujuran dan etika. Oleh karena itu, guru juga perlu selalu memprioritaskan tindakan yang benar dan jujur dalam segala hal yang mereka perbuat. Selain itu juga, disini guru juga memilki peran sangat penting dalam mengajarkan empati dan kerja sama. Dalam menghadapi perbedaan dan konflik di kelas, guru dapat menunjukan bagaimana berkomunikasi dengan baik, mendengarkan dengan sangatb empati, dan juga dapat menyelesaikan konflik dengan cara yang damai. Siswa dapat belajar banyak dari cara guru menangani situasi soal ini.

Dapat di fahami bahwa sebenarnya banyak sekali yang harus berperan dalam mencegah kasus bullying ini terutama adalah keluarga, karena biasanya ketika di sekolah seorang anak mengalami bullying biasanya seorang anak akan berani berbicara jika dari pihak keluarga yang menanyakan soal bullying tersebut.

 




 

DAFTAR PUSATAKA

Akbar, I. F. (2023). Mencegah Bullying: Peran Penting Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat. Rahma.ID. https://rahma.id/mencegah-bullying-peran-penting-keluarga-sekolah-dan-masyarakat/

Bangsawan, M. I. P. R. (2023). Guru sebagai Model Perilaku: Membentuk Sikap dan Nilai Siswa. Eduinovatif. https://eduinovatif.blogspot.com/2023/10/guru-sebagai-model-perilaku-membentuk.html

Marietha, R. A. (2024). Indonesia Darurat kasus perundungan. GoodStats. https://goodstats.id/article/miris-indonesia-darurat-kasus-perundungan-satuan-pendidikan-di-bawah-kemdikbudristek-terbanyak-0gcyv

Maryamah, E. (2016). 2016, Pengembangan Budaya Sekolah, Jurnal Tarbawi (Jurnal Online), Vol 2, No 2. Hal 86-96. Tarbawi (Jurnal Online), 2(02), 86–96. https://media.neliti.com/media/publications/publications/256481-pengembangan-budaya-sekolah-1bf3dd81.pdf

Mayung, R. A., Tandiayu, W. N., Untu, Z., & Widajanti, A. (2023). SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN PROFESI GURU TAHUN 2023 e-ISSN: 2829 - 3541. Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Tahun 2021, 2020, 105–111.

Moch Insan Gumelar. (2022). Pengaruh Intimidasi Fisik dan Verbal Terhadap Motivasi Atlet. 9–40.

Muallif. (2023). Lima Langkah Mencegah Bullying di Sekolah: Dari Budaya Positif hingga Peran Saksi. UNIVERSITAS ISLAM AN NUR LAMPUNG. https://an-nur.ac.id/blog/lima-langkah-mencegah-bullying-di-sekolah-dari-budaya-positif-hingga-peran-saksi.html#:~:text=Berikut adalah lima langkah yang dapat dilakukan untuk,5 5. Memberdayakan peran saksi dalam mencegah bullying

Nur, A. (2024). Mengatasi Perilaku Bullying di Sekolah Dasar. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/annisanur4831/6747f32334777c4ccb241bd2/mengatasi-perilaku-bullying-di-sekolah-dasar

Prastiwi, Mahar Mashabi, S. (2024). JPPI: Sepanjang Tahun 2024 Ada 293 Kasus Kekerasan di Sekolah. Kompas.Com. https://www.kompas.com/edu/read/2024/10/24/163509171/jppi-sepanjang-tahun-2024-ada-293-kasus-kekerasan-di-sekolah

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Development of the Teaching Profession: From Vocation to Dedication